Tampilkan postingan dengan label Human Reality. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Human Reality. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Tugas, untuk pembelajaran atau hanya kewajiban semata?

Sejak dahulu kala, tugas merupakan suatu kewajiban seorang murid agar mereka bisa lebih mengaplikasikan apa yang mereka pelajari. Saat ini, banyak pelajar yang mengerjakan tugas hanya karena tugas adalah kewajiban mereka. Mereka mengerjakan tugas hanya karena takut tidak memperoleh nilai yang bagus. Bahkan, ada yang mengerjakan tugas apa adanya. Seperti ada pelajar yang hanya copy-paste dari tugas temannya atau dari internet. Karena dengan melakukan copy-paste, tugas mereka menjadi lebih cepat selesai. Menurut saya, kebiasaan copy-paste ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi para pelajar. Kebiasaan ini dapat menyebabkan ketergantungan mereka pada internet atau pun teman mereka sendiri. Jadi saat diberikan tugas, mereka akan berpikir "Ah, ada si X kok yang ngerjain. Nanti gue tinggal copy paste aja. Gampang lah itu" atau "Ah, topik ini pasti ada di internet. Nanti tinggal di google aja lah". Apalagi jika tugas yang diberikan oleh guru sudah menumpuk, bagi mereka yang sudah malas berpikir, salah satu jalan pintasnya adalah dengan melakukan copy-paste sehingga tugas mereka cepat selesai. Salah satu dampak buruknya adalah nanti ketika mereka dituntut untuk menyelesaikan suatu permasalahan sendiri tanpa bantuan orang lain, mereka akan kesulitan karena mereka selalu bergantung pada teman atau internet.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgy7_KKbpwOuoXODe8aM4o07vvZXaTkfCxu2W-Na6af-AY4U6KJL7FYKZRAqA9KI4OZH3nrgypOGpfWgxc7vlEaGLfTjIcYVoXa1alpPRs5-VUxl-BzgTa_vc8wpVwS-RzrI0BsLtr2AvEW/s1600/copy+paste.jpg
http://aahendrayana.blogspot.com/2010/08/copy-paste-refleksi-budaya-menerabas.html
Hal ini juga tidak adil bagi teman mereka yang mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh untuk pembelajaran. Mereka akan merasa usaha yang mereka lakukan sia-sia saja melihat teman-teman mereka mengerjakan tugas secara instan hanya dengan copy-paste saja. Apalagi jika tugas yang telah mereka kerjakan di copy-paste oleh teman mereka. Mereka akan beripikir, "Wah enak sekali ya dia ngerjain tugas, punya gue tinggal di salin aja" dan hal tersebut bisa saja menurunkan niat dan usaha mereka untuk mengerjakan tugas. Mereka bisa saja ikut terpengaruh oleh teman mereka untuk melakukan copy-paste. Mereka yang benar-benar ingin belajar jadi malas karena melihat temannya yang meengerjakan tugas secara instan.

Disini, guru juga memiliki peran penting agar para pelajar mau mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Contohnya, guru memberikan reward pada setiap murid yang mengerjakan tugasnya dengan baik. Reward yang diberikan bisa apa saja tapi menurut saya lebih baik nilai tambahan karena jika reward yang diberikan berupa benda, para pelajar malah lebih mengerjakan tugas hanya untuk memperoleh reward yang berupa benda tersebut. Guru juga harus memastikan bahwa para pelajar benar-benar memahami materi pelajaran yang akan ditugaskan, sehingga para pelajar dapat mengerjakan tugas itu dengan baik sesuai kemampuan mereka.

Minggu, 02 Maret 2014

Rasanya Menjadi Bagian Dari Kaum Minoritas

Saya terlahir sebagai warga negara Indonesia yang berketurunan Cina dan beragama Kristen, yang menjadikan saya sebagai salah satu dari kaum minoritas di Indonesia. Pada saat sekolah dulu, saya sering mendapatkan diskriminasi karena beragama Kristen. Sebagai contohnya, pada saat SMA, di kelas saya yang beragama non-muslim hanya ada 2 orang, yaitu saya dan seorang lagi teman saya. Entah kenapa, segiat apapun kami belajar, seberapa tinggi pun nilai yang kami dapatkan, kami selalu mendapatkan peringkat paling terakhir. Ini membuat saya merasa tidak adil dan tidak terima. Tetapi saya hanya bisa pasrah karena saya tahu, sebagaimana pun saya protes, guru saya tidak begitu peduli akan masalah tersebut.

 Saya mendapatkan "darah" Cina dari ayah saya. Mengapa hanya dari ayah? Karena ibu saya adalah seorang pribumi. Sebagai keturunan Cina, saya cukup kaget akan salah satu peristiwa yang terjadi di akhir tahun 2011. Saat saya sedang browsing internet, saya melihat satu iklan di facebook yang berjudul "Jokowi-Ahok for DKI-1". Saya penasaran dong, siapa sih Ahok ini, karena nama Ahok menurut saya adalah nama panggilan yang berbau Cina. Setelah saya googling, ternyata dia adalah Basuki Tjahaja Purnama, mantan Bupati Belitung Timur yang saat itu sedang menjabat sebagai anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014. Saya berpikir, "Wah, berani juga si Ahok ini.", "Mimpi kali ya dia, orang Cina mau jadi Wakil Gubernur Jakarta.", "Dia ga takut apa kalau lagi jalan-jalan terus ditatap sinis sama semua orang?". Awalnya saya juga ngeremehin aja karena saya pikir impossible aja orang Cina bisa jadi Wakil Gubernur DKI. Tapi ternyata, Jokowi-Ahok berhasil menang di Pilkada putaran kedua. And for the first time ever, ada orang Cina yang jadi Wakil Gubernur.

Ada beberapa stereotipe yang kurang tepat mengenai orang Cina. Seperti misalnya, orang Cina itu pelit. Well, menurut saya kebanyakan orang Cina bukannya pelit, tapi lebih mengirit pengeluaran uang mereka untuk sesuatu yang menurut mereka tidak begitu penting. Dan orang Cina itu lebih ke tidak mau rugi. Siapa sih yang mau rugi? Stereotipe lainnya adalah orang Cina itu pinter-pinter semua. Ini tidak sepenuhnya benar. Banyak kok yang biasa-biasa aja dan tidak begitu pinter. Dan masih banyak lagi stereotipe-stereotipe lainnya yang tidak sepenuhnya benar. Jadi, bukan karena kebanyakan orang Cina itu pelit, pinter, kaya, berarti semua orang Cina juga seperti itu.